Rayap tak ubahnya tamu tak diundang. Datang tanpa tanda, tanpa suara, langsung menyerang bangunan, tiba-tiba ambruk. Itu sebuah gambaran betapa dahsyatnya serangan rayap terhadap bangunan. Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr Dodi Nandika, saat menjadi narasumber dalam dialog pakar di RRI Bogor, belum lama ini.
“Kami menduga pada tahun ini, kerugian secara ekonomis akibat serangan rayap pada bangunan rumah di Indonesia sebesar 8,68 triliun rupiah. Sedangkan pada bangunan gedung lainnya sebesar 10 triliun rupiah,” ujar Prof Dodi.
Prof Dodi menjelaskan, rayap sering menyusup masuk ke dalam rumah atau bangunan gedung, kemudian merusak berbagai komponen bangunan yang terbuat dari kayu. Bahkan mereka juga sering merusak benda-benda berharga yang ada di dalamnya. Rayap yang hidup di bumi ini ada sekitar 2.000 spesies, tetapi hanya sedikit (kurang dari 100 spesies) yang berperan sebagai hama.
Di balik keganasannya, rayap merupakan sahabat manusia. Mereka berperan sebagai pengurai (decomposer) yang merombak dan mendaur ulang sampah organik, tunggak pohon, serasah, dan bahan organik lainnya menjadi partikel-partikel an-organik seperti karbon, nitrogen, sulfur, dan fosfor. Melalui proses tersebut bukan saja sampah organik yang dimusnahkan tetapi juga kandungan hara di dalam tanah diperkaya. Mereka mengembalikan nutrisi yang terkandung dalam organik ke dalam tanah. Mereka bisa disebut sebagai penyubur tanah. (wly).

Leave a Comment