“Indonesia, Jepang, Amerika, dan seluruh isi alam semesta ini, semua itu adalah milik yang Maha Kuasa. Jadi tidak perlu takut bermimpi untuk bisa kesana dan khawatir akan resiko yang ada. Karena semua itu hanya ujian dari yang maha kuasa yang bersifat sementara dan apabila kita berhasil melewatinya, maka percayalah kepuasan akan sebuah perjuangan akan benar-benar bisa dirasakan.“

-Deasy

Assalamualaikum wr.wb.

            Selamat pagi semuannya perkenalkan nama saya Deasy Ramatia mahasiswi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor angkatan 53 (2016). Saya mau sedikit cerita kepada teman-teman pengalaman saya dan zulfa dalam berjuang mewujudkan mimpi untuk bisa berkunjung dan membawa nama Indonesia kenegara sakura ini.

“Hal yang paling saya rasa yang berada dalam diri saya bukan sebuah kecerdasan ataupun kepintaran melainkan keyakinan, keberanian, dan kerja keras ditambah dengan usaha yang yang kuat dan doa  dari orang tua, keluarga, pihak-pihak yang mendukung saya, Terimakasih banyak”

-Deasy

Kalimat pembuka yang saya tuliskan diatas adalah salah satu stimulan yang saya rasakan setiap harinya ketika saya ingin mewujudkan mimpi. “Tidak ada yang tidak mungkin”. Saya bersama Zulfa fauziah yang notabene dia adalah adik tingkat saya dan merupakan patner saya dalam mengikuti berbagai kompetisi lomba sebelunya. Bagi saya punya patner bersama adik tingkat yang luar biasa aktif dan pintar ini adalah tantangan tersendiri dalam mengendalikan ego kami dan menyelesaikan segala permasalahan tim dengan seksama.

Saya (Deasy ramatia) bersama dengan tulisan ini akan bercerita akan hal yang luar biasa hebatnya, dimana ketika mimpi-mimpi kami yang disertakan dengan doa dan usaha terkabul atas kehendak yang maha kuasa.

Nah melalui kegiatan Internasional Young Innovator Summit (IYIS) 2018 yang diselenggarakan oleh Studec Internasional kami berhasil membuktikan akan keajaiban mimpi itu, Siapa sangka saya dan zulfa merupakan salah satu tim dari tiga tim yang mewakili Institut Pertanian Bogor di ajang internasional IYIS 2018 di Tokyo, japan yang diikuti oleh 45 Tim dari 12 Negara yang berpartisipasi.

Awal mula kenapa kami bisa ikut kegiatan ini, bermula dari inisiatif zulfa untuk mengajak saya berkompetisi paper Internasional karena sebelumnya dia juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam persentasi paper di Malaysia sehingga dia juga sudah sangat berpengalaman. Namun, dibalik kisah keberhasilan kami yang sampai bisa berkunjung kenegara sakura ini, kami sangat banyak menerima ujian dari  yang maha kuasa dan membuat kami lebih bersifat tangguh dalam menyelesaikannya..

Nah Berikut cerita perjalanan kami dari awal pembuatan paper sampai bisa menuju ke Tokyo, Japan!

 

Perjuangan sebelum pergi ke Jepang

Kami terbilang cukup aktif dan mempunyai ketertarikan bidang yang sama dalam segi sosial dan kemasyarakatan. Tidak heran saat kami memutuskan untuk mengikuti kegiatan ini kami membawakan paper yang bertemakan Kesetaraan Gender yang berjudul “Female in Action 4,0”. Berangkat dari penulisan paper sampai kami dinyatakan lolos seleksi dan mendapat LoAnya. Kami sangat kebingungan pertamanya dari segi biaya dan pendanaan karena kegiatan ini tidak funded 100%, namun karena kami berasal dari dua fakultas yang berbeda yaitu Fakultas Kehutanan dan Fakultas Ekonomi dan Manajemen maka kami bisa meminta bantuan dana kemasing-masing fakultas. Selain itu kami juga mengajukan dana kepada pihak sponsorship, kementerian Indonesia, dan beberapa pihak yang dirasa bisa menjadi peluang kami dalam mengajukan permohonan dana.

Perjuangan yang saya sangat rasakan adalah ketika kami harus rela bolos satu hari perkuliahan demi mencari dana sponsor kekota bogor, Jakarta, dan beberapa pabrik PT perindustrian di Gunung Putri. Sudah tidak tahu lagi rasanya banyak uang dan tenaga yang kami habis kan dalam mencari sponsor ini. Ditambah lagi kami harus mencetak beberapa jilid proposal yang harus segera dilampirkan ketika ingin mengajukan proposal permohonan dana. Pernah waktu itu satu hari sebelum berangkat kebandung untuk mengikuti lomba debat, kami sempatkan waktu untuk mencari sponsor dana hanya dengan menggunakan motor, dari pagi sampai menjelang magrib. Tersesat, ban pecah, kelaparan, bahkan kesehatan turun juga menjadi tanggungan kami. Ditambah lagi waktu kami memutuskan untuk kejakarta mengajukan sponsor ke delapan kementerian RI. Hal inilah saya rasakan luar biasa capeknya. Pernah saya telat praktikum sekitar 1 jam dikarenakan kemacetan dan keterlambatan kami menaiki kereta dari stasiun tanah abang-stasiun bogor. Namun karena asisten praktikumnya mengerti dengan apa yang saya rasakan akhirnya saya tetap diperbolehkan masuk kelas praktikum. Dilain sisi, zulfa sebagai patner saya juga merasakan hal yang sama dalam keterlambatan sehingga biasanya kami selalu meminta kovensasi akan hal itu.

Berbicara mengenai pendanaan, alhamdulilah saya berasal dari Departemen yang luar biasa baiknya. Segala urusan yang saya hadapi dengan departemen bahkan sangat dipermudah, terutama Ibu Istie selaku sekdev DHH yang tahu betul perjuangan saya, Kemudian juga dari Fakultas Kehutanan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, dan Departemen Manajemen IPB yang juga memberikan dukungan yang sama dalam hal pendanaan. Terlebih lagi saya juga mempunyai dosen yang luar biasa baiknya yaitu Pak Hendrayanto selaku Dosen Departemen Manajemen Hutan IPB yang turut membantu dalam memberikan dana sponsorship kepada kami tanpa dipersulit. Kemudian pada pihak ICO IPB selaku Travel Grant, kami juga sangat berterimakasih yang sudah memberikan bantuan dan dukungan kepada kami sehingga kami bisa pergi melaksanakan kegiatan tersebut. Dan yang terakhir adalah keluarga kakak tingkat saya (yang dalam hal ini saya rahasiakan identitasnya) yang sangat ikhlas dalam membantu dan meminjam kan dana kepada kami untuk keperluan tiket ke jepang. Hal ini dikarenakan, beberapa dana yang turut membantu belum bisa langsung turun melainkan harus berdasarkan prosedur dan memakan waktu yang lumayan lama. Dengan itu, menghindari kenaikan harga tiket yang mahal dan mengejar waktu pembuatan visa japan, kami dipinjam kan dana untuk melakukan pembelian tiket kejepang secepat mungkin agar bisa segera dilakukan. Alhamdulilah Terimakasih Ya allah…

Cerita Pada saat pergi, pelaksanaan kegiatan, dan pulang dari Tokyo, Japan 

            Setelah segala urusan administrative sudah selesai, pada tanggal 06 Oktober 2018 kami berangkat dari CGK Airport menuju Narita Airport, namun karena kami menggunakan maskapai Philipine Airlines, kamipun harus transit terlebih dahulu di negara Philipin selama 12 jam. Dan pada tanggal 07 Oktober  2018 kami pun sampai di Narita Airport Tokyo, Japan. Sungguh diluar ekspetasi ketika segala perjuangan yang kami rasakan akhirnya terbayarkan oleh semua ini. Banyak dukungan dan doa yang mengalir selama kami di Tokyo, yang membuat kami nambah bersemangat dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

IYIS 2018 diikuti oleh beberapa lapisan masyarakat, mulai dari dosen, guru, siswa/I SMA, Mahasiswa/I , dan beberapa founder sebuah komunitas yang berasal dari berbagai negara. Ketika kegiatan berlangsung banyak sekali ide dan inovasi yang ditawarkan pada masing-masing tim. Namun hal itu tidak membuat kami patah semangat. Kegiatan yang berlangsung cukup lancar dari mulai kami membuka dan mengakhiri persentasi. Hal yang paling menarik ketika kami mengakhiri persentasi banyak founder dari berbagai komunitas mengapresiasi dan mengajak kami bekerjasama dari segi kesetaraan gender. Kami sangat bangga karena ide kami dipandang sebagai best solution dari berbagai tim yang persentasi. Hal inilah yang kami sebut sebuah kepuasan setelah berjuang.

Kurun waktu 3 hari kami berada ditokyo, japan banyak tempat yang kami eksplor dari sana. Salah satunya adalah Gedung Tokyo Tecnology Institute yang menjadikan kami sangat terpukau dengan berbagai teknologi yang ada. Budaya yang diciptakan oleh masyarakat kota Tokyo sangat astri dan tentram. Perbedaan cukup terlihat ketika kami membandingkan keadaan lalulintas dengan negara berkembang lainnya. Hampir tidak pernah saya melihat masyarakat menggunakan motor dan kendaraan pribadi lainnya, semuanya tampak jalan kaki, sepeda, dan menggunakan transpostasi umum seperti Bus dan Kereta. Kemudian pengalaman beharga bagi saya, karena bisa bertemu dengan Kak Didi di Tokyo, Japan. Dimana beliau merupakan masyarakat asli kampung halaman saya yaitu Pagaralam, Sumatera selatan ini yang sudah bekerja sekitar 3 tahun di Tokyo ini.

Berbagai pembelajaran yang bisa saya ambil dari perjuangan ini tidak lebih untuk membawa dan mengharuskan nama kampus IPB dan Indonesia dikanca Internasional. Dan ucap syukur kami panjatkan kembali, karena kami berhasil pulang kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat walafiat.

Sekian cerita Perjanan kami dalam berjuang mewujudkan mimpi. Ingat yaaa teman-teman, kami bisa ikut kegiatan Internasional karena kami punya MIMPI.  Jika kalian berusaha dan mampu mewujudkan mimpi itu menjadi sebuah kenyataan yakinn pasti akan tercapai. Semangat yaaa… yakin Tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha dan berdoa… jangan lupa tuliskan mimpi-mimpi anda … Good Luck!

“Setiap manusia mempunyai mimpi untuk sukses tapi setiap manusia memiliki jalan sukses yang berbeda untuk meraih mimpi tersebut.”

-Deasy

1 300x200 Internasional Young Innovator Summit Tokyo Jepan 2 300x200 Internasional Young Innovator Summit Tokyo Jepan

3 225x300 Internasional Young Innovator Summit Tokyo Jepan 4 225x300 Internasional Young Innovator Summit Tokyo Jepan 5 225x300 Internasional Young Innovator Summit Tokyo Jepan

 

 

Leave a Comment